Jumat, 23 Desember 2016

Opini "Masa Lalu Membentuk Masa Depan Bangsa"



Benturan kebudayaan sebagai dampak dari globlisasi membuat semua bangsa di dunia semakin diuji. Di Indonesia, generasi rentan mengalami keterpengaruhan budaya dan enggan mempelajari sejarah dan akar budaya sendiri. Kepribadian dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia semakin hilang dan digantikan kekaguman dengan dengan bangsa lain.
Pdahal sebagai bangsa yang besar, Indonesia haruslah menjadi Negara yang bisa menampilkan kebesaran dan jati dirinya di pentas dunia. Pintu masuk bisa melalui pendidikan. Sekolah yang selama ini menjadi tempat uatma membentuk wawasan mengenai bangsa. Tugas sekolah bukan hanya mengajarkan siswa tentang moralitas yang baik, meningkatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mendidik dan membentuk kepribadian siswa sebagai orang Indonesia.
Tak bisa dipungkiri, dewasa ini tantangan untuk membentuk kepribadian ini semakin besar. Penetrasi teknologi yang massif membuat Indonesia menjadi sasaran pelbagai macam “jualan” dari bangsa lain. Parahnya lagi, berbagai dinamika dari given condition Indonesia sebagai bangsa mejemuk, Negara yang kaya sumber daya alam, tetapi sumber daya manusainya tertinggal yang selalu mendapat tarikan-tarikan kepentingan global.
Bapak-bapak bangsa kita juah-jauh telah mengingatkan cara yang efektif untuk membangun integritas dan kepribadian bangsa. Pada Orde Lama diupayakan melalui indoktrinasi dengan materi Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi (Tubapi) yang meliputi Pancasia, UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Manifesto Politik, dan Kebudayaan Indonesia. Di era Orde Baru melalui program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Sayang, keduanya masih kurang berperan dan masih kurang membumi karena penekanannya terasa sangat utopis dan periodek.
Saya rasa, disinilah peran pelajaran sejarah. Di Negara-negara maju seperti Amerika serikat dan banyak Negara di Eropa, pemerintah mengandalkan pengajaran sejarah di sekolah sampai ke perguruaan tinggi untuk menyosialisakan nilai-nilai utama Negara yang disebutkan dalam Declaration of Indepedensi, liberalism,, freedom of tought (kebebasan berpikir), demokrasi, serta perjalanan sosial, politik, budaya, ekonomi, hankam negara bangsanya, para pahlawan bangsa ditampilkan dalam pelajaran sejarah serta berbagai ideologinya, alih-alih hanya kisah hidupnya. Sikap-sikap luhurnya dan karya-karya besarnya yang menjadi warisan dan bagi peradaban bangsa mereka.
Negara-negara lain, seperti Tiongkok dan Jepang, juga menerapkan pola serupa melalui pelajaran sejarah disekolah untuk menanamkan nilai-nilai utama masyarakat mereka masing-masing, bahkan di Jerman sejak taman kanak-kanak berupa dongeng sampai pendalaman di pascasarjana. Penyajiannya tak menekankan siswa untuk menghapal peristiwa, tanggal dan tempat kejadian. Tetapi, substansi dan latar belakang terjadinya suatu peristiwa dan penonjolan nilai-nilai luhurnya.
Hal ini dipahami pelajaran sejarah itu mengandung dimensi pendidikan ideology, politik, moral, dan etika. Hal ini efektif, karena ideology adalah endapan dari nilai-nilai utama sejarah yang kemudian mengkristal mewujud menjadi jalan hidup suatu bangsa.
Kesimpulan
Belajarlah dari masa lalu, kata orang bijak. Sejarah bukan hanya masa lalu. Sejarah bisa sangat efektif membentuk karakter suatu bangsa. Sejarah adalah karakter suatu bangsa. Sejarah adalah sumber sah mewujudnya ideologi suatu negara dan bangsa. Kita telah memilikinya, yaitu sejarah panjang negara besar ini, melewati kurun waktu sangat lama dengan peristiwa besar, kaya dengan tokoh yang memiliki kandungan pelajaran akan teladan serta nilai-nilai luhur, yang akan memperkuat kepribadian kita sebagai bangsa, guna membekali bangsa ini bertransformasi menjadi negara bangsa yang besar, maju, modern yang tetap berciri Indonesia. Selama ini, kita hanya kurang piawai mengekspos sejarah besar Indonesia untuk bisa menginspirasi jalannya bangsa ini. Pelajaran sejarah memang tak boleh kering dan dingin. Materinya harus menarik dan mengangkat nilai-nilai luhur yang akan menjadi nilai-nilai utama kehidupan bangsa ini. Bangsa yang tak mampu menghayati dan memetik pelajaran dari sejarah dan masa lalunya, akan dihukum di perjalanan sejarah bnerikutnya dengan mengalami kembali kepahitan masa lalunya.


Ditulis oleh : Akhmad Damiri, S.Pd

Sumber Tulisan : Radar Banjarmasin, 14 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar