Sabtu, 24 Desember 2016

Cerpen "Menjahit Sayap Malaikat"


Menjahit Sayap Malaikat*


Sejak ditinggal mati suaminya, Maria membuka usaha jahit di rumahnya. Mula-mula sepi, tapi hari demi hari pesanan jahitan mulai banyak dan ia kewalahan. Ia merekrut dua gadis di dekat rumah untuk membantu. Ia bangkit dan bisa menghidupi dua anak yang masih kecil, diri sendiri, dan dua karyawan. Sampai suatu ketika, sesosok malaikat datang mengetuk pintu rumahnya.
Malaikat itu datang tengah malam, persis empat tahun sepeninggal suami yang tewas dalam kecelakaan. Malaikat itu mengetuk pintu dengan lembut, sampai-sampai tak bakal ada yang dengar, kecuali orang yang benar-benar berhati suci atau yang dikehendaki malaikat itu untuk mendengar.
Maria masih bermimpi ketika ketukan itu merayapi kepala. Seperti tetes air di kendi. Begitu lemah dan teratur. Bergema namun tak gempar. Jernih dan terang. Tetes demi tetes membangunkan Maria. Ia lihat jam dinding dan bangkit untuk membuka pintu. Malaikat itu, sebagaimana di kisah tidak masuk akal buku dongeng, tidak berwujud penuh cahaya; malaikat itu berwajah jelek dengan kulit hitam dan bau arang. Ia berbaju compang camping dan wajahnya babak belur, bagai maling habis dihajar massa. Tangan kanannya membawa bertumpuk kain serupa selimut.
“Ada apa, Pak?”
“Ini, Bu. Tolong jahitkan,” kata malaikat.
Maria mempersilahkan tamunya masuk. Tidak curiga, bahkan ia sepenuh sadat menyiapkan mesin jahit dan tali pengukur. Ia baru sadar beberapa detik kemudian, saat si malaikat mengaku mengalami kecelakaan di langit; sebuah pesawat dengan pilot kasar, menghantam sayapnya hingga koyak. Kini, sayap-sayap itu berpindah ke tangan Maria.
“Bapak jangan ngaco!” Itu kalimat yang pertama Maria ucapkan, tetapi demi Tuhan, kain yang ia kira selimut lebih lembut dari dugaan. Bahkan, tidak pernah ada kain selembut ini. Ia perhatikan sekali lagi, beberapa helai bulu rontok, melayang di udara, tak jemu-jemu, tak kunjung rebah pada bumi. Bulu-bulu sayap itu melayang santai begai gelembung sabun.
“Begini, Bu. Jangan kaget,” kata malaikat itu penuh kesopanan, hingga tidak membuat Maria panik, kecuali menyebut-nyebut nama Tuhan; apa mau malaikat ini? Apa ia hendak mati? Oh, tidak. Jangan dulu. Maria terus berpikir dan kepalanya pening.
Malaikat itu pun melanjutkan, “Saya memang malaikat dan benar-benar minta tolong dijahitkan sayap-sayap itu.”
Maria tak tahu ada berapa banyak penjahit di kota ini, tapi kenapa si malaikat yang jatuh ke bumi berkat dihantam pesawat itu, meminta tolong padanya? Ada banyak penjahit di luar sana yang lebih beriman darinya, yang pantas bertemu dan membantu malaikat ini, tapi kenapa? Malaikat itu tidak perlu mendesak. Maria mulai bekerja dengan penuh rasa gugup. Ia memujlai jahitan dari salah satu sudut, dan si malaikat memuji betapa tekun usaha yang Maria jalankan. Sudah maju sebigini rupa, padahal belum tiga tahun memulai. Maria heran dan bertanya, tentu sambil menelan ludah grogi, “Dari mana Bapak tahu?”
“Tolong jangan panggil saya Bapak. Panggil saja bung. Lebih elegan dan misterius,” kata malaikat. Maria menuruti dan menyebut kata ‘Bung’ di akhir pertanyaan yang sama. Si malaikat lalu menjawab, ia tahu karena suami Maria meninggal di tangannya. “Ya, sayalah yang mencabut nyawa suamimu,” kata malaikat itu dengan jujur.
Maria untuk sesaat terkejut, dan sambil terus menjahit benda aneh ditangannya, tidak berkata apa-apa. Malaikat itu tadinya sungkan meminta tolong pada Maria untuk dijahitkan sayapnya yang koyak moyak, sebab dahulu suami perempuan ini mati karenanya. Tapi kali ini, si malaikat heran, bagaimana mungkin Maria tidak marah dan mengusirnya?
Tentu saja, Maria tidak perlu segusar itu. Ia memang tidak rajin beribadah, tapi ia tahu, malaikat hanya bertugas. Takdirlah yang berkata bahwa suaminya harus mati empat tahun lalu. Jadi, perempuan itu tidak menyalahkan siapa-siapa dan tidak berkata apa pun sampai kedua sayap malaikat itu selesai. Sayap-sayap itu siap dipasang ke punggung si pemilik, ketika Maria akhirnya bersuara, “Simpan rasa sungkanmu, Bung. Aku sudah terima takdir itu seperti engkau menerima nasibmu sebagai pengemban tugas.”
Malaikat itu tersenyum, dan bingung harus berkata apa.


*Ditulis oleh : Ken Hanggara

Sumber tulisan : Banjarmasin Post, edisi 11 September 2016 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar