Minggu, 18 Desember 2016

Cerpen "Ayah"



Ayah*

Bulan terakhir pada penanggalan matahari. Tepat ketika petrichor menyerbak ramai-ramai sehabis kemarau memanggang tanah hingga kerontang. Rambutan, durian, langsat, kesturi dan sebagainya bukan lagi sekedar bunga di ranting pohon. Mereka telah menjelma menjadi buah masak yang siap dijajakan di tepian jalan atau disantap usai dipetik langsung.
Membayangkan segala jenis buah-buahan khas musim hujan itu tak urung turut menyeruakkan rindu di sela jantung dan paruku. Sudah hampir setengah tahun berlalu aku tak menyibak pintu rumah ayah. Lelaki paruh baya yang kini tinggal sendiri usai kepergian ibu menghadap Allah dua tahun silam. Bukan tak ingin pulang. Sungguh, aku teramat rindu pada lelaki yang dulu bekerja sebagai guru agama di sebuah madrasah ibtidaiyah tersebut. Hanya saja kesibukanku sebagai tenaga pengajar di sebuah universitas inilah penyebabnya. Kampus tempatku mengajar berada di ibukota provinsi, sedangkan tempat tinggal ayah ada di kota kabupaten yang harus ditempuh selama tiga jam dengan perjalanan darat.
Tetapi kemudian, segala alasan kesibukan itu rubuh dengan sebaris surat dari ayah. Kemaren siang aku menerima surat dari ayah melalui seorang tukang pos yang biasa mengantar paket untuk pihak universitas. Dimasa teknologi yang demikian canggih, ayah tetap memilih setia dengan kebiasaan lamanya berkirim surat kepadaku atau kakak lelakiku yang kini bekerja sebagai polisi yang bertugas di pulau jawa.
Kalimat surat ayah sederhana. Ditulis dengan serangkaian huruf bersambung khas cara penulisan di zamannya. Goresannya laksana anyaman dengan ketebalan dan tinggi yang beragam. Aku mengenali benar tulisan itu lantaran selama enam tahun duduk di madrasah ibtidaiyah, begitulah tulisan yang kutemui manakala jam pelajaran pendidikan agama islam.
Ayah hanya ingin bercerita, rambutan di halaman rumah kita hampir memerah semua. Ingin dikirimkan takut membusuk diperjalanan. Dibiarkan, khawatir kamu tak sempat mencicipi barang sebiji saja. Seminggu terakhir, dipelataran mesjid raya juga ramai orang menjajakan durian dan kesturi. Ayah tak berani memakannya karena kata kakak perempuannmu yang bidan itu bisa memicu tekanan darah tinggi. Tapi ayah tahu, kamu menyukai juga dua buah itu.
Lama aku tertegun. Meresapi surat ayah itu dengan air mata yang mengambang, siap hendak menirai di kelopak. Ia tak memintaku pulang secara gamblang, hanya tersirat. Sebab aku tahu benar, ayah bukanlah pribadi yang senang memaksakan kehendaknya terlebih pada anak-anaknya. Tekadku sudah bulat, segera pulang selepas para mahasiswa menyelesaikan ujian akhir semester. Ku kabari kak Siti, kakak perempuanku, anak kedua dalam keluarga kami. Kini ia sajalah yang tinggal satu kota dengan ayah meski tidak lagi serumah. Sebenarnya kami bertiga sudah berkali-kali menawarkan ayah untuk ikut salah satu diantara aku, abangku, atau kak Siti. Tetapi ayah tetap kukuh menolak. Ia beralasan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri, selain karena lebih dekat bila ingin ziarah ke makam ibu, beliau merasa di rumah inilah kenangan kami banyak tertinggal.

***
Rumah itu masih sama, arsitekturnya khas banjar. Dihalaman tumbuh pohon jambu biji, mangga, dan rambutan. Terasa rindang dan asri. Tak dipagari dengan beton atau besi, hanya tanaman serai dan lidah mertua yang tumbuh sejajar. Aku tersenyum. Di sudut kiri rumah kami, tanaman kembang kertas tumbuh rimbun berselang-seling dengan mawar merah yang dibiarkan merambat. Itu bunga kesayangan ibu semasa beliau masih hidup. Dari lalungkang, kulihat ayah tersenyum ke arahku.
“Pekerjaanmu sudah selesai, Li?” tanya beliau ketika kami telah duduk di ruang tamu atau yang oleh masyarakat sekitar lazim disebut sebagai penampik basar.
Aku mengangguk.
“Syukurlah. Malam ini kita shalat berjamaah di masjid raya sekalian ayah teraktir durian dan kesturi kesukaanmu.” Ucapnya dengan binar bahagia.
“Inggih, Yah.”
Aku hanya menyetujui pintanya itu. Rinduku sudah kadung untuk diluapkan. Selepasnya, kami berbincang berdua. Menikmati suara burung-burung yang berkicau hendak pulang ke sarang usai mencari makan seharian. Senja terasa meluruh dengan cepat ketika dilalui dalam suasana kebersamaan yang hangat.

***
Sepulang dari masjid tadi, kami membeli sebiji durian dan beberapa buah kesturi. Sengaja tak banyak, karena aku akan memakan itu sendirian. Ayah tak berani mencicipi lantaran menghindari penyakit tekanan darah tinggi beliau kambuh. Aku juga tak berani memakan banyak-banyak, maruk. Lagi pula bisa menyebabkan panas di perut. Sesampainya di rumah, gegas durian itu dibelah. Baunya yang legit tak urung membuatku membayangkan bahwa rasanya juga akan serupa. Namun nihil, aku justru dirundung kecewa luar biasa. Durian itu busuk seluruhnya.
“Ini penipuan, Yah. Biar Ali kembali ke sana meminta ganti durian yang lain pada penjualnya.” sungutku dengan rasa kesal yang memuncak.
Ayah menahan tanganku yang hendak bersiap-siap beranjak dari dapur.
“Duduklah, di luar sedang hujan. Lagi pula masih ada hari esok kan?” Ayah terkesan sedang berusaha menawar rasa kesalku.
“Tapi, Yah...” Kalimatku menggantung karena telunjuk kanan ayah lebih dulu memagar bibirnya pertanda memintaku diam.
“Ayah tahu kamu kecewa. Tetapi ketahuilah, Nak, hal yang bagimu merugikan itu, tidaklah sebesar rugi yang mungkin saja ia telah terima. Kita tak pernah tahu, bisa jadi seluruh durian yang ia bawa itu busuk sejak dari kebunnya sehingga memang tadi pun hanya kita yang membelinya kan? Bisa jadi pula kita adalah pembeli pertama sekaligus terakhir banginya.”
“Dia tidak jujur dalam berdagang, Yah,”
Ayah tersenyum. Mengusap pudakku hangat.
Urusan jujur dan tidaknya biarlah Allah yang menilai, anakku. Satu hal yang pasti, kita menghargai usahanya untuk menjaga diri dari perbuatan meminta-minta. Karena sesungguhnya perbuatan meminta-minta itu tidak disukai Allah dan rasul-Nya. Kamu ingat cerita ayah tentang seorang peminta-minta yang menghadap Rasulullah?
“Ingat. Hari itu Rasulullah sedang berkumpul dengan para sahabat di suatu majelis. Tiba-tiba datang seorang lelaki kepada mereka untuk memohon sedekah. Tetapi rasulullah justru bertanya apa ia punya rumah? Kemudian lelaki itu menjawab bahwa ia hanya memiliki selembar baju dan cawan untuk meminta-minta. Rasulullah kemudian memintanya mengambil kedua barang tersebut lalu beliau melelangya kepada para sahabat yang sedang berada di majelis. Terhadap si lelaki peminta-minta itu, Rasulullah berpesan agar ia membeli makanan untuk anak istrinya dan sisanya digunakan untuk modal membeli kapak yang akan menjadi modalnya bekerja mencari dan berjualan kayu bakar.”
“Bagus. Sekarang ayah tanya kepadamu, apa selama ini kamu pernah mengecewakan orang lain?”
Aku tertunduk sesaat sebelum menjawab pertanyaan ayah. Tak berani menatap mata keabu-abuan yang menyimpan segala kebijaksanaan hidup itu. Ujungnya aku hanya mampu menjawab dengan anggukan halus. Mustahil sebagai seorang manusia kau tak pernah mengecewakan orang lain.
“Apa kamu mengharapkan dimaafkan oleh orang tersebut, Nak?” suara ayah terdengar berat meski tidak parau. Kembali aku hanya sanggup mengangguk untuk pertanyaan beliau itu.
“Kalau begitu, maafkanlah juga penjual durian yang mengecewakanmu. Anggap saja itu sedekah bagimu.” tutup ayah malam itu.
Hingga mejelang terlelap, nasehatnya masih seolah mengiang ditelingaku. Sesungguhnya bukan perihal harga yang membuatku kecewa pada penjual itu. Tetapi perkara ketidakjujurannya akan kualitas durian yang dijualnya. Walau kata ayah, bisa jadi si penjual bersangkutan juga tidak tahu lantaran hanya bekerja sebagai buruh yang ditugasi tengkulak menjual durian miliknya.

***
Mataku memicing sebentar, menajamkan teliga saat terdengar suara riuh di beranda. Ada gelak, ada pula lengkingan. Usai merapikan tempat tidur, bergegas kuhampiri sumber suara. Di sana, telah duduk kakak iparku menemani yah berbincang. Sedangkan ketiga keponakanku sibuk mengejar ayam-ayam kate peliharaan ayah yang dilepas begitu saja di halaman rumah. Sesekali terdengar suara kakak iparku menegur anak-anaknya.
“Li, tangkap!” teriak kakak iparku tiba-tiba sembari melempar kunci mobil miliknya.
“Dibagasi masih ada dua karung durian, sebagian sedang dibagikan kakakmu ke tetangga. Kamu angkat gih, mungkin mau mencicipi. Baru dipetik dari kebun Abah kemaren, dijamin legit.” terangya lantang.
“Untuk Ali semua, Bang?”
Ia menggedikan bahu sekan tak tahu jawaban atas pertanyaanku. Sebelum kemudian terkekeh kecil.
“Ya terserah, kalau kuat habiskan saja.” candanya.
“Buah keikhlasan, Li. Janji Allah lunas, sedekah satu dibalas sepuluh.” Timpal Ayah sembari tersenyum dari kursinya. Mata tuanya memandang hangat ke arahku.
“Lebih, Yah. Dibalasnya dua karung malah....” sahutku berlalu.
Pikiranku menerawang. Teringat ilmu keikhlasan yang tadi malam diajarkan pleh ayah melalui nasehatnya. Ya. Kurasa hingga pensiun pun ayah tetaplah guru bagi kami; anak-anaknya. Guru tentang kehidupan dan penerang jalan menuju keridaan-Nya.


*Ditulis oleh : Miranda Seftiana

Sumber tulisan : Radar Banjarmasin, edisi Minggu 18 Desember 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar