Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Januari 2017

Cerpen Terbaru "Jempol Kaki Ibu Ada Di Televisi"

JEMPOL KAKI IBU ADA DI TELEVISI*

Aku sudah tidak sabar menyelinap masuk ke dalam  kamar Ibu. Seperti malam ini, kuperhatikan Ibu sudah mulai mendengkur. Setelah menutup kembali pintu kamar, aku memandangi wajahnya sejenak. Wajah Ibu seperti pelabuhan tua yang sudah mulai ditinggalkan. Yang ada hanya sunyi. Tak ada lagi kapal yang merapat dan mengaitkan tali ke dermaga. Tadi, sebelum aku menyelinap ke kamar Ibu, di meja makan, wajahnya murung. Awalnya aku biasa saja, mungkin Ibu sedang letih. Tapi kemudian Ibu menangis. Menggunakan handuk kecil Ibu mengusap derai-derai di matanya. Saat kutanyakan sebab tangisnya itu, Ibu hanya tersenyum. Ia langsung pergi ke kamar.
Aneh. Biasanya Ibu sering bercerita kepadaku, tentang apa saja, bahkan soal burung yang bersarang di pohon jambu belakang rumah. Saat itu Ibu melihatku sedang mengumpulkan dedaunan kering di bawah pohon jambu. Saat aku mulai ingin membakarnya, Ibu segera mencegahku.
“Kasihan bayi burung yang ada di atas sana, Ratih. Mereka akan merasakan panas akibat daun-daun yang kau bakar,” kata Ibu menunjuk ke atas pohon.
Kukira Ibu sedang bercanda mengenai bayi burung itu, ternyata memang benar. Aku tidak pernah memperhatikannya. Lalu kata Ibu lagi, tidak baik membakar sampah di bawah pohon. Pemali. Susah jodoh, katanya. Aku tertawa, apa hubungannya membakar sampah di bawah pohon dengan jodoh? Pasti hanya alasan Ibu saja. Tepatnya menyindirku. Memang sampai sekarang aku belum memutuskan untuk bersuami. Semua itu bukan tanpa alasan. Tapi bukankah setiap orang berhak merahasiakan alasannya itu kepada siapa pun? Tadi Ibu juga baru saja menangis dan ia merahasiakan sebab tangisannya itu kepadaku.
Baiklah. Ibu tentu cemas kenapa aku selalu menolak lelaki yang datang untuk meminangku. Sebenarnya aku tidak suka dengan cara lelaki. Kelak jika aku menerima pinangan mereka, pasti aku akan berada pada sebuah keputusan yang rumit. Apa yang harus kulakukan jika mereka membawaku pergi jauh? Artinya aku harus meninggalkan Ibu. Bagaimana pun itu tidak boleh terjadi. Aku hanya akan bersuami jika mereka mau tinggal bersamaku di sini. Dengan begitu aku bisa merawat Ibu sekaligus merawat suamiku.
Lantas kenapa tadi Ibu menangis? Aku jarang melihat Ibu menangis. Apakah Ibu sedang mengingat sesuatu. Seperti ingatan-ingatan yang kembali datang tanpa permisi. Mengingat Bapak misalnya. Entahlah, ini hanya dugaan. Sempat juga terpikir olehku untuk mengejar Ibu sampai ke kamarnya, bertanya ini dan itu tapi Ibu memutuskan untuk tidur. Sebenarnya ranjang di kamarnya itu sudah teramat besar untuk Ibu sendiri. Bapak sudah duluan pergi menuju tempat di mana nantinya semua orang menuju.
Sekarang, saat-saat seperti ini, melihat Ibu tidur, semua hari-hari yang kulewati bersamanya tampak anggun. Aku kembali merasakan kerinduan yang beku. Rindu akan jempol kaki Ibu. Perlahan kudekati jempol kakinya, memasukkannya ke dalam mulut dan menghisapnya berulang-ulang. Aku tidak peduli meski Ibu sudah melarangku. Katanya masa lalu yang muram tidak harus menjadi masa depan yang buram. Tapi kebiasaan Ibu memberikan jempol kakinya ke mulutku sewaktu kecil selalu membuatku ingin mengulanginya lagi meski sudah sebesar ini.
Kata Ibu, dulu kami lahir di sebuah dusun yang kering. Mbareng, namanya. Di mana-mana hanya ada gunung batu cadas. Bahkan mandi pun harus pergi ke waduk bercampur dengan para sapi. Jika kemarau tiba, waduk itu tidak lagi berair. Pernah aku diajak Ibu kembali ke dusun itu, menemui saudara Ibu yang masih tinggal di sana. Tiap-tiap rumah di dusun itu memiliki bak penampungan air hujan. Air itulah yang digunakan jika kemarau tiba.
Untuk mandi, mencuci pakaian, juga memberi minum para sapi.
Untuk hidup, mereka memetik lamtoro dan membuatnya menjadi tempe. Mereka menjualnya ke pasar dengan dibungkus daun jati. Dulu Ibu juga melakukan hal yang sama. Kata Ibu, tidak banyak yang ditawarkan hidup di dusun Mbareng. Di sana-sini hanya rimbun bebatuan cadas. Kalaulah ingin bertani, maka bebatuan itu harus digali. Tapi para lelaki dan anak-anak muda lebih suka mengadu nasib pergi ke kota. Meski hanya menjadi buruh bangunan, itu lebih baik daripada menanam padi yang tak jelas kapan panennya. Apalagi jika musim kemarau, untuk mandi saja harus berbagi dengan sapi, bagaimana mungkin merawat padi dengan air yang tak cukup.
Suatu ketika Ibu sedang di dapur ingin memasak nasi. Sudah biasa bagi penduduk dusun Mbareng yang memiliki bayi menambah takaran air saat memasaknya. Karena saat dimasak nanti, sebagian air itu akan diberikan kepada anak bayi mereka sebagai pengganti susu. Orang-orang menyebutnya air tajin. Warnanya persis putih susu. Jika tanpa gula, rasanya akan hambar. Sampai sekarang aku juga sering membuatnya ketika memasak nasi. Tentunya tanpa sepengetahuan Ibu.
Di dapur, Ibu sibuk mengumpulkan serbuk gergajian kayu. Dengan serbuk itu, setiap hari orang-orang dusun menyalakan api di dapur mereka. Saat Ibu masih berusaha menyalakan api, didengarnya kami sedang menangis di kamar. Mula-mula Ibu diam saja tapi lambat laun tangis kami semakin meledak-ledak rasanya. Ingin netek kepada Ibu.
Akhirnya Ibu meninggalkan dapur dan pergi menyusul kami. Namun Ibu kewalahan, susu Ibu hanya ada dua dan kami semua ada dua belas orang. Agar kami semua bisa cepat berhenti menangis, terpaksa Ibu menjejalkan jempol kakinya bergantian ke mulut kami. Begitulah seterusnya sampai kami semua mendapat jatah. Jika satu mulai menangis dan air susunya sedang mengalir di tempat lain, maka jempol kaki Ibu satu-satunya jalan agar tangisan itu reda.
Aku geli ketika Ibu menceritakannya kepadaku. Bahkan tak percaya kalau semua itu benar-benar terjadi dalam hidup kami. Dan sialnya, Ibu tidak melakukannya sekali saja. Tapi hampir setiap hari jika kami sedang menangis semua.
***
Aku masih menikmati jempol kaki Ibu sambil membersihkan air liurku yang mengotori jempol kakinya. Aku cemas ketika Ibu berusaha menarik kakinya dari peganganku.
“Apa yang kamu lakukan, Ratih?” tanya Ibu bangun dari tidurnya.
Aku hanya diam memandangi wajah Ibu yang kusam. Matanya masih menyisakan bengkak habis menangis, rambutnya juga acak-acakan. Aku siap menerima jika kali ini Ibu marah besar. Namun Ibu menarik tanganku. Dibawanya aku naik ke atas ranjang lalu mendekapku hingga penuh. Masa lalu itu berkelindan sunyi dalam benak kami.
Ibu menangis. Wajahku berkali-kali diusap, dalam pelukan dapat kurasakan tubuh Ibu semakin kurus, genangan air matanya meleleh di pipiku. Tangis Ibu semakin keras, tersedak-sedak. Rambut dan pipiku berkali-kali menjadi sasarannya. Dicium, diremas-remas. Aku bingung dengan perbuatan Ibu. Tangisnya tak sanggup menjelaskan apa pun kepadaku. Apa ini lanjutan tangis Ibu sebelum tidur tadi?
Malam sunyi. Kuminta agar Ibu kembali tenang, membagi sedihnya kepadaku. Barangkali dengan bercerita, kesedihan itu bisa dicicil dengan sempurna. Pelan Ibu membisikkan sesuatu, tersedu-sedu. Disebutnya satu persatu nama anak-anaknya, para kakakku itu. Entah alasan apa malam ini Ibu menginginkan semua anak-anaknya berkumpul. Ibu rindu, ingin tahu semua kabar anak-anak yang pernah disusuinya.
Di rumah ini, kami hanya tinggal berdua. Padahal saudaraku berjumlah sebelas orang dan semuanya pergi meninggalkan rumah. Lima mengabdi bersama suaminya di tempat yang jauh. Sisanya bekerja. Juga di tempat yang jauh. Mereka semua sudah berkeluarga. Bahkan sudah memiliki anak dan rumah sendiri di sana. Awalnya, mereka masih mengunjungi Ibu. Kadang satu tahun sekali saat-saat lebaran datang. Tapi sekarang tidak lagi. Selalu saja ada alasan, banyak acara, banyak biaya, juga banyak entah. Padahal Ibu teramat fasih merindukan mereka.
Segera kulepas rangkulan Ibu yang makin kuat mencengkeram rindu lewat bahuku. Tergesa-gesa, kuambil handphone mungil hadiah Ibu saat hari ulangtahunku. Kutekan tombol-tombol, beberapa baris kalimat kusebar merata pada semua.
“Malam ini Ibu merindukan kalian!!! Malam ini Ibu ingin bertemu kalian!!! Malam ini Ibu ingin kalian segera pulang. Pulang!!! Pulang!!! Pulannngggg!!! Malam ini juga kalian harus pulang. Datanglah kalian ke dekapan Ibu. Malam ini juga!!! Malam ini juga!!! Pulanglah…pulanglah kalian kepada Ibu. Pulaaaaa…nnngggg…..!”
Kusebar semuanya kepada mereka.
"Apakah kalian semua masih bisa merindukan seorang Ibu?"
Ketika di antara mereka ada yang langsung menelepon. Aku hanya bisa berteriak. "Malam ini juga! Malam ini juga! Pulang! Pulangggg! Jangan pernah ada alasan untuk Ibu! Kalian harus pulang. Jangan pernah tidak mengabulkan satu-satunya keinginan Ibu! Pulang! Pulang! Malam ini juga kuminta kalian semua pulang! Rasakan kembali jempol Ibu!” Emosiku meluap-luap, aku menangis, berteriak-teriak. “Cepat kalian pulang, Ibu sudah menunggu! Pulang, malam ini juga karena Ibu sudah menunggu. Pulanglah segera ke rumah, Kak!
***
Semua berduyun-duyun datang, tapi tidak malam-malam kemarin, minggu-minggu kemarin, ketika aku mengirimkan pesan. Mereka datang setelah melihat jempol kaki Ibu ada di televisi. Jempol yang sudah dipenuhi darah.
Aku tak habis pikir kenapa Ibu diam-diam menyelinap saat aku lelap. Saat aku bangun, rumah sudah kosong dan aku hanya bisa tertegun. Di atas meja, buku yang berisi alamat-alamat sudah hilang. Ibu pergi untuk mengobati rindunya sendiri. Tapi rindu itu tertunda bersama kereta api yang mengalami kecelakaan. Wajah Ibu memenuhi layar kaca televisi. Jempol kakinya putus dan terselip di antara kursi kereta api yang juga sudah patah. Lalu besoknya semua kakakku berdatangan, lengkap membawa istri, suami dan anak-anaknya. Tapi aku tidak peduli.

Sumber : http://dokumensastrakalsel.blogspot.co.id/2016/01/cerpen-harie-insani-putra-jempol-kaki.html

Senin, 16 Januari 2017

Cerpen "KUYANG"

                   KUYANG*


RUMAH itu jauh di ujung sana, dekat dengan kuburan. Hanya ada jalan setapak yang bisa dilewati. Malam ini, udara di luar begitu dingin. Selalu saja tercium wangi bunga kamboja dan melati. Angin yang bertiup kencang juga membuat daun bambu yang tumbuh di samping rumah Acil Midah menimbulkan suara seperti kertas yang bergesekan. Suara katak dan jangkrik ikut terdengar sangat jelas dari dalam rumah.
Sudah lama Irham tidak mengunjungi Acil Midah. Di atas tikar lusuh, Irham masih duduk bersila.
  “Istrimu adalah tian mandaring¸ begitulah sebutan bagi orang yang melahirkan pertama kalinya. Maka, bila senja tiba, ajaklah istrimu masuk ke dalam rumah, menutup pintu rapat, penuhilah syarat-syarat. Bentangkan tali haduk di setiap rumahmu yang bercelah, juga tempat tidur yang akan digunakan istrimu ketika melahirkan nanti. Percayalah, itu mampu menangkal sesuatu yang jahat. Kau tahu? Tian mandaring meruapkan wangi yang sangat dahsyat. Tapi jangan kau kira itu adalah wangi yang bisa kau cium. Lewat angin, wangi itu akan dikirim dan menjadi penunjuk alamat rumahmu. Tapi jangan takut. Kau sudah datang kemari. Bawalah tujuh lapis benang hitam ini pulang. Ikatlah pada jempol kaki kanan istrimu sambil membaca shalawat nabi. Insya Allah, sesuatu yang jahat tak berani mendekat.” 
Irham hanya termangu. Tujuh lapis benang hitam sudah dalam genggamannya. Benda-benda semacam itu bukan hal baru. Tapi dua belas tahun hidup di pesantren membuatnya berubah. Tidak ada bedanya antara penyembah berhala jika masih mempercayai benda-benda semacam itu, bathinnya. Tapi Irham sangat memahami siapa Acil Midah. Dulu, sewaktu suaminya masih hidup, mereka berdua dijuluki sepasang suami istri yang baik hati. Acil Midah dan suaminya selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongan mereka. Tapi resiko yang dihadapi Acil Midah dan suaminya cukup berbahaya. Setelah beberapa kali berhasil menggagalkan santet, pernah di malam yang senyap, sebuah cahaya terang melesat dan masuk ke rumah Acil Midah. Orang-orang yang kebetulan melihat cahaya itu dari kejauhan, menganggapnya sebagai bintang jatuh. Tapi di rumah Acil Midah, sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Dengan tubuh yang membiru pucat, nyawa suaminya meregang malam itu juga. Ketika Acil Midah meminta bantuan untuk menguburkan mayat suaminya, orang-orang mulai sadar apa yang telah terjadi dengan suami Acil Midah. Pasti akibat santet, begitu orang-orang menyimpulkannya. 
 “Untuk apa kuyang mendatangi setiap orang yang akan melahirkan? Lebih realistis menjadi maling atau rampok. Tujuan mereka jelas.”
Acil Midah tertawa keras hingga terbatuk-batuk. Sebelum menjawab, ia mengambil daun sirih dalam bungkusan plastik. Irham baru tahu kalau Acil Midah saat ini suka menginang. Daun sirih itu dicampurnya dengan kapur dan pecahan biji pinang. 
“Aku mulai menginang sejak suamiku meninggal. Awalnya memang terasa pahit, tapi sekarang enak sekali. Untuk gigiku ini, agar tidak keropos. Toh, aku memutuskan tidak ingin menikah lagi. Jadi tidak perlu khawatir ada seorang lelaki yang terganggu saat mencium bibirku,” ucap Acil Midah dengan tawa terbahak bahak. Irham tersenyum. Acil Midah memang teman bicara yang menyenangkan. Kadang serius, kadang juga lucu.
“Banyak alasan kenapa orang menjadi kuyang. Kapan-kapan aku ceritakan semuanya kepadamu. Tapi kebanyakan mereka menggunakannya agar terlihat cantik. Tujuannya sama ketika orang-orang menggunakan susuk.”
“Ternyata banyak juga yang belum kuketahui,” kata Irham.  
“Itu karena dulu kau lebih suka ilmu kekebalan dan ilmu untuk mendapatkan perempuan. Semoga saja istri yang kau dapatkan itu bukan karena pelet,” ledek Acil Midah. 
Giliran tawa Irham meledak, “Tentu saja, tidak. Bahkan semua yang pernah Acil Midah ajarkan, tidak lagi kuamalkan.”
“Kenapa?” selidik Acil Midah.
“Jika kukatakan, pasti Acil Midah akan meledekku.”
“Karena kau lulusan pesantren?”
“Ya. Aku diajarkan untuk tidak lagi mempercayai hal-hal seperti itu.”
Acil Midah menganggukkan kepalanya. “Tapi untuk kali, kau harus mengikatkan benang hitam itu ke jempol kaki istrimu.”
Irham tidak menjawab. Bahkan tadi ia sempat berpikir akan membuang benang hitam itu sesampainya di rumah. Ia menemui Acil Midah hanya untuk silaturahmi. Bagaimana pun, Acil Midah adalah kakak dari ibu kandungnya sendiri. “Aku kemari juga ingin mengatakan bahwa aku tidak ingin mewarisi ilmu-ilmu seperti yang Acil Midah miliki.”  
“Dua belas tahun adalah waktu yang panjang untukmu berpikir. Apalagi kau lulusan pesantren. Tentu saja kau menolak ilmu yang sudah mentradisi di keluarga kita. Tapi secara garis keturunan, kau berhak atas semua ilmu-ilmu itu.”
“Bagaimana jika aku tidak mau?”
“Aku senang dengan pendirianmu. Dulu, aku juga begitu. Tapi kepada siapa lagi orang akan meminta bantuan jika tidak ada yang mewarisinya?” 
Irham tidak ingin berdebat malam ini. “Bagaimana jika kita bicarakan nanti saja. Aku harus pulang sekarang, istriku pasti sedang menunggu.”
Acil Midah tersenyum. “Tunggu sebentar,” Acil Midah masuk ke dalam kamar. Ia kembali membawa sebatang kayu yang bentuknya seperti tongkat. “Aku ingin mewariskan ini kepadamu. Simpanlah. Siapa tahu kau membutuhkannya. Juga tali haduk ini, agar kau tidak repot membelinya.”
“Untuk apa tongkat ini?”
“Itu terbuat dari kayu Palawan. Ampuh sekali untuk mengalahkan kuyang. Pukul saja di bagian kepala, ia tidak akan bisa melarikan diri,” jawab Acil Midah.
Berat hati Irham menerima pemberian Acil Midah. Bukankah semua benda yang dulu diberikan Acil Midah juga sudah ia bakar?

***
Sambil memegangi perut yang sudah besar, perempuan itu tak sabar menunggu suaminya pulang. Ia menyesal mengijinkan suaminya berangkat ke rumah Acil Midah. Pikirannya selalu terbayang-bayang dengan kejadian empat hari yang lalu. Seorang perempuan meninggal dunia saat melahirkan. Seandainya peristiwa itu tidak terjadi di samping rumahnya, mungkin Tanti tidak perlu cemas. Ia kembali mengelus perutnya. Suara longlongan anjing di luar sana membuat Tanti semakin gelisah. Meski dokter mengatakan jabang bayinya akan lahir dua minggu lagi, bukan berarti tidak mungkin lahir malam ini.
Perlahan Tanti mengedarkan pandangannya ke bagian pintu dan jendela. Meski sudah terkunci, tetap saja Tanti tidak bisa menghilangkan rasa takutnya. Orang-orang bilang, kuyang akan masuk melalui celah lobang angin yang ada di atas pintu atau jendela. Tanti semakin cemas, apalagi sejak sore, perutnya terasa mules. Namun, dari kejauhan terdengar motor. Tanti berharap itu milik suaminya. Ia segera mengintip ke balik korden. Dugaannya tidak salah. Tanti langsung mengambil kunci pintu rumah yang tersimpan di balik kantong daster. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan lega.
“Mulai besok, aku tidak ingin tinggal sendirian di rumah,” ketus Tanti mengucapkannya.
Irham menoleh, “Wajahmu pucat?”
Tanti menghindari tatapan suaminya. “Aku hanya mengantuk. Bagaimana kabar Acil Midah?”
“Baik. Dia titip salam untukmu.”
“Hanya itu?” selidik Tanti.
“Sebentar lagi kau melahirkan. Kata dokter, lebih baik kau banyak istirahat dan tidak terlalu tegang.”
“Semua dokter akan bilang begitu. Seandainya tidak terjadi peristiwa kemaren, aku pasti siap menghadapinya.”
“Kita serahkan saja semua urusan ini kepada Allah.”
“Maksudku, apa kita tidak boleh berikhtiar disamping tetap memohon keselamatan kepada Allah?”
Irham tahu maksud ucapan istrinya. Apalagi ia baru saja datang dari rumah Acil Midah. “Ia memberikan ini kepadaku,” Irham mengeluarkan tongkat kayu Palawan yang masih tersimpan di balik jaketnya. “Ia bilang, ini bisa mengalahkan kuyang.”
“Apa hanya itu yang diberikan Acil Midah?” selidik Tanti. Ia yakin, masih ada sesuatu yang disembunyikan oleh suaminya. Apalagi akhir-akhir ini banyak saran agar Tanti juga membentangkan tali haduk di sekeliling rumah.
Irham berusaha menenangkan, ia rangkul bahu istrinya. “Aku nikahi kau, karena imanmu. Inilah saat-saat iman kita diuji oleh Allah,” kata Irham.
Tanti memperhatikan wajah suaminya, “Aku hanya khawatir terjadi sesuatu dengan si jabang bayi,” Tanti mngelus perutnya. “Aku juga belum cerita kalau tadi sore tak sengaja menginjak kelabang di kamar mandi. Reflek aku terkejut lantas membunuhnya dengan sapu lantai,” kata Tanti menceritakan akibat dari perbuatannya itu. Sejak masih remaja, Tanti sering mendengar cerita bahwa orang hamil tidak boleh membunuh binatang atau mengucapkan kat-kata yang tidak baik. Biasanya perbutan itu kan berimbas dengan keselamatan si jabang bayi.
“Lupakan saja tentang itu. Yang aku khawatirkan justru kau terkejut dan terpleset. Itu kan membahayakan jabang bayi dan juga dirimu,” jawab suaminya. “Besok aku akan menutup saluran pembuangan air dengan kawat nyamuk. Sekarang kita tidur saja.”
Dibantu suaminya, perlahan Tanti merebahkan tubuhnya ke kasur. Detik demi detik terus berjalan. Tanti belum juga bisa memejamkan matanya. Ia menoleh ke samping, suaminya sudah terlelap. Tanti membenahi selimutnya hingga menutupi bagian leher. Lolongan anjing itu mulai lagi. Meski jauh, Tanti bisa mendengarnya dengan jelas. Juga cericit burung di malam hari. Ia pernah melihat burung itu ketika di jalanan gelap. Saat itu ia bersama suaminya pulang dari dokter praktik. Mata burung itu sangat tajam, seperti mata kucing ketika terkena sinar lampu. Banyak orang mengatakan, burung itu hanya bisa ditemui saat malam tiba. Ia akan bersuara jika sedang melihat seseorang. Tanti masih belum bisa memejamkan matanya. Suara burung itu juga belum berhenti. Longlongan anjing terdengar semakin memanjang. Rasa takut itu datang lagi. Bagaimana jika diluar sana ada seseorang yang mengintai bakal lahirnya si jabang bayi?
Apa boleh buat, Tanti membangunkan suaminya. Tapi bukan karena takut, perutnya semakin bertambah sakit. “Sakit sekali,” rintih Tanti dengan mulut yang meringis.
“Apa mungkin malam ini?” Irham mengira-ngira.
Tanti mencengkram tepi ranjang. Irham kemudian beranjak keluar, tapi Tanti mencengkram pergelangan tangan tangannya. “Mau kemana? Aku takut kalau kau tinggal sendiri?”
“Aku siapkan sepeda motor dan kita pergi ke rumah sakit,” jawab Irham panik.
“Aku tidak kuat lagi. Kau panggil saja bidan kampung.”
Irham berusaha mengingat bidan kampung yang dimaksud istrinya, “Masitah yang rumahnya di ujung jalan itu?”
“Siapa lagi kalau bukan dia!” bentak Tanti tidak tahan merasakan sakit yang melilit.
Irham langsung mengambil jaket. Sambil melangkahkan kakinya, Irham teringat dengan benang hitam yang diberikan Acil Midah. Ia merogoh kantong celana. Ada perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Irham mulai mengkhawatirkan istri dan si jabang bayi. Bagaimana jika kuyang datang malam ini? Sebenarnya masih ada waktu bagi Irham untuk mengikuti perintah Acil Midah. Apa susahnya sekedar mengikatkan benang ke jempol kaki istrinya? Toh, tadi istrinya juga menginginkan benang itu. Sungguh, Irham tidak tega melihat wajah istrinya yang diliputi rasa sakit dan ketakutan. Tapi Irham ragu melakukannya. Bagaimana jika malam ini adalah terakhir kali ia bersama istrinya?

***
Mobil ambulan itu belum juga datang. Irham terus memohon keselamatan kepada Allah. Tadi, Masitah si bidan kampung itu mengatakan bahwa istrinya mengalami pendarahan. Irham langsung menghubungi rumah sakit untuk segera datang menjemput istrinya.
“Sebaiknya kau tunggu di luar. Sediakan air hangat dalam baskom untuk membersihkan tanganku ini. Kau lihat, banyak sekali darahnya. Coba kau usahakan cari pinjaman mobil. Aku khawatir ambulan datang terlambat. Sambil menunggu, aku akan berusaha menghentikan pendarahan istrimu,” ucap Masitah.
Irham tidak tega meninggalkan istrinya sendirian, tapi bidan kampuyng itu benar. Kenapa sejak tadi aia tidak memikirkannya? Irham benar-benar panik, kalut dan bingung. Apalagi mendadak seperti ini. Ia segera pergi untuk mencari pinjaman mobil. Di dalam kamar, Masitah melanjutkan pekerjaannya.
“Bodoh!” ucap Masitah dengan senyum yang menyeringai. Ia pandangi Tanti yang masih berjuang menahan rasa sakit. Masitah menghirup napas dalam-dalam. Ia resapi aroma wangi yang menyeruap dari darah yang kental melekat di jari tangannya. Masitah menjulurkan lidah, ia jilati darah itu hingga habis.
Tanti ngeri melihat ulah Masitah. “Apa yang kau lakukan?”
“Sebentar lagi kau akan tahu,” jawab Masitah dengan senyum yang mengerikan.
Tanti berusaha menyandarkan tubuhnya ke didnding, menjauhi Masitah yang mulai memegangi kakinya.
“Jangan takut, aku justru akan membantu menghilangkan rasa sakitmu itu,” pinta Masitah.
“Jangann…jangannn!” teriak Tanti meraih bantal dan melemparkannya ke wajah masitah. Tanti juga melemparkan tasbih yang ia temukan di bawah bantal.
 Masitah mengerang kesakitan ketika tasbih itu mengenai wajahnya. “Kurang ajar, kau belum tahu siapa aku sebenarnya.” Masitah mengolesi lehernya dengan minyak yang ia bawa. Tanti histeris melihat leher itu bisa memisah dari badan Masitah.
“Tolong, tolongg, Irhammm, Irhammm!” Teriak Tanti sekuaat tenaga.
Di luar, orang-orang terbangun mendengar teriakan Tanti. Irham datang bersama mobil yang ia pinjam. Irham tergesa-gesa, ia hempaskan pintu mobil dengan keras. Suara pintu itu terdengar hingga ke dalam rumah dan mengejutkan Masitah yang telah berubah menjadi kuyang. Kepalanya terbang mengitari seisi kamar. Ia menyadari kehadiran seseorang di luar sana. Irham gagal membuka pintu rumah, padahal tadi ia tidak menguncinya, bahkan pintu rumah itu dibiarkan tetap terbuka.
“Tolonnngg, tolonggg. Ada kuyang, ada kuyang!” teriak Tanti
Orang-orang tekejut mendengar teriakan itu. Irham mengambil ancang-ancang dan mendobrak pintu rumahnya dari luar. Pintu itu terhempas dan membentur ke dinding dengan sangat keras. Orang-orang di luar sana sudah berkumpul dan memberikan bantuan kepada Irham.
“Hei, kuyang. Jangan ganggu sitriku!” bentak Irham. “Di mana Masitah?” Irham belum mengenali siapa kuyang sebenarnya. “Masitah, Masitah…,” teriak Irham.
Kuyang itu meringis. Rambut panjangnya terurai ke depan. Orang-orang ngeri melihat sosok kuyang itu. Baru pertama kali ini mereka menyaksikannya langsung. Saat kepala kuyang itu terbang mendekati Tanti, keberaniannya timbul untuk meraih usus yang berseliweran di atas wajahnya. Sambil berteriak, Tanti menariknya sekuat tenaga. Kuyang itu jatuh terjerembab. Orang-orang segera meringkusnya.
“Periksa semua bagian rumah ini, cari tubuhnya!” teriak mereka. Orang-orang kemudian mencari tubuh kuyang itu. Akhirnya mereka temukan di dalam lemari pakaian.
“Aku takut,” Tanti menangis dalam pelukan Irham.
“Sudahlah, kita ke rumah sakit sekarang,” Irham membopong istrinya. Mobil yang mereka tumpangi segera menuju rumah sakit. Diperjalanan, Irham merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan benang hitam dan membuangnya ke jalan.


*Ditulis oleh : Harie Insani Putra

Sumber tulisan : Buku “Jempol Kaki Ibu ada di Televisi” sebuah kumpulan Cerita Pendek karya Harie Insani Putra

Kamis, 05 Januari 2017

Cerpen "Perempuan Balian"

Perempuan Balian*


“Sebelum peristiwa malam itu yang akan kuceritakan nanti, Idang dikenal sebagai perempuan kurang waras. Kerap mengamuk kesurupan, dan meracau menceritakan tentang mimpi-mimpinya yang aneh. Kepada orang-orang ia sering mengatakan, ”Ada ular-ular besar menyusup dalam mimpiku. Ular itu bukan mimpi, tapi ular yang menyusup dalam mimpiku. Dalam mimpi juga aku sering bertemu Ayah.”
Idang memang tak seperti kebanyakan perempuan lainnya yang hidup di pegunungan Meratus. Ia suka memanjat pohon, hal yang hanya pantas dan perlu kekuatan seperti dimiliki anak laki-laki. Ia juga kerap melakukan perjalanan sendiri ke hutan-hutan terdalam, hutan-hutan terlarang.
”Aku banyak menemukan makhluk-makhluk aneh di sana. Mereka bersahabat,” ceritanya kepada teman-teman sebaya, yang karena cerita semacam itu pula menyebabkan ia perlahan-lahan dijauhi teman-temannya. Namun ia mengaku tak pernah merasa kesepian. ”Teman-temanku di dunia lain jauh lebih banyak,” seseorang bercerita kepadaku menirukan ucapannya.
Tabiat ini kemudian dikait-kaitkan orang dengan almarhum ayahnya yang seorang balian, seorang dukun kesohor. Ayahnya dikenal sebagai panggalung, dukun sakti yang karena karismanya sanggup memanggil, mengikat, dan mendatangkan orang-orang dari kampung-kampung jauh. Ayahnya meninggal kala ia usia 12 tahun. Ibunya lebih dulu tiada, tak tertolong saat melahirkannya. Entah dari mana mulanya, kenyataan itu membuat Idang dianggap sebagai pembawa kemalangan dalam hidup.
Dengan hidup hanya ditemani nenek dari ibunya, Idang tumbuh menjadi perempuan pendiam, penyendiri. Dan bila pun ia bicara dan bercerita kepada anak-anak sebayanya, maka itu adalah cerita tentang mimpi-mimpi, tak jauh dari cerita tentang ular dan ayahnya.
***
Balai Atiran terang benderang. Orang-orang mulai berdatangan memasuki rumah besar panggung itu. Enam keluarga yang berdiam di dalam balai, sudah sejak gelap pertama duduk di depan pintu bilik masing-masing yang tampak gelap seperti goa, hingga pintu yang terbuka itu layaknya kain hitam yang menempel di dinding balai. Mereka menjamu, menjadi tuan rumah aruh yang dihelat di tengah-tengah ruang balai yang malam itu berbilas cahaya dari lima lampu petromaks.
Barisan-barisan tamu dari bukit-bukit jauh silih bergantian datang. Arak-arakan kecil itu sebagian datang dengan berpenerang obor, sinter, atau hanya mengandalkan terang langit di atas jalan yang membelah hutan pegunungan Meratus. Malam tak berbulan.
Kaki-kaki tak beralas menapaki jalan-jalan basah dibasuh sebelum menaiki tangga balai sepuluh undakan. Tua muda, laki perempuan, dan anak-anak. Di antara mereka ada yang membawa hasil kebun: kemiri, keminting, atau sayuran yang diberikan kepada ibu-ibu dan dara-dara yang bekerja di dapur mempersiapkan jamuan. Ada dua ekor babi yang telah dikorbankan untuk upacara, dan setengah karung beras dimasak di dalam sebuah kuali besar.
Para undangan sudah mulai memenuhi ruangan balai. Duduk berlapis-lapis membentuk segi empat sepanjangan ruang balai yang polos, hingga mempertegas tiang-tiang kurus ulin balai yang menjangkau langit-langit tinggi. Hanya ruang segi empat kecil di tengah-tengah balai yang dibiarkan terbuka, dengan segenap syarat-syarat upacara: menyan dan sebilah keris tua telanjang jangkung kehitaman. Seorang lelaki tua namun terlihat penuh wibawa duduk bersila. Kepalanya dibebat kain. Sementara mulutnya tak henti mengembuskan asap tembakau yang dilinting kulit jagung kering. Dialah damang, yang konon usianya sudah lebih satu abad. Wajahnya yang penuh kerutan waktu mengingatkan pada rekahan-rekahan batang pohon tua dalam hutan terdalam. Damang Itat, begitulah orang-orang Meratus memanggilnya, yang malam itu akan menjadi pemimpin upacara aruh.
Segala berpusat pada lingkaran tari di tengah. Berputar-putar. Bergelombang. Menyedot seperti kitaran angin limbubu. Diam yang mengalir dalam mantra-mantra dan tarian purba. Pada apa kata menjadi sakti. Tiga lelaki terus bergerak. Kadang seperti melayang, membayang, tak berpijak tanah, tak berpijak bumi, mengambung dalam kisaran waktu yang terus beringsut susut.
Tiga tubuh terus berputar-putar dalam tarian. Madah-madah dinyanyikan merasuk dalam rampak tabuh gendang dan denting gelang. Seperti suara alam yang tak pernah terduga. Mengentak. Melenting tajam menembus langit-langit balai. Menggetarkan udara yang berkibar-kibar dalam satu ruang. Tubuh-tubuh liat lepas, tak mengenal jeda, tak mengenal kantuk, tak mengenal tanah pijak. Mereka para balian yang menjalankan ritual pengobatan untuk seonggok tubuh yang terkulai layu di tengah-tengah balai, tempat segala sesembahan diluahkan.
Balai itulah cahaya benderang satu-satunya di belahan hitam hutan Kalimantan Selatan yang sebenarnya tak lagi perawan. Sebuah kampung kecil, yang malam itu menghelat upacara ritual untuk si sakit.
Tubuh kecil kurus anak usia empat tahun itu seperti kehilangan daging dan air. Hanya tulang-tulang berbalut kulit kering layaknya kulit kayu tua mengerut keras, yang cepat meretas seperti ilalang terbakar di musim kemarau yang mengerontangkan ceruk kehidupan. Warna kulitnya kuning serupa kunyit. Hanya matanya masih menyimpan kilat hidup, meski juga sudah meredup dalam napas yang beringsut ingin melepaskan rongga dadanya yang tipis, membayangkan keretak kayu lapuk. Jari-jari sapu lidinya menjentik pelan pada lantai beralas lampit, mengikuti irama tari tiga balian.
Diisap buyu, penyakit menakutkan yang mengakrabi tubuh kecil tergolek di tengah-tengah balai. Tubuh yang diisap buyu adalah seperti merentangkan hidup di antara kematian. Darah, daging, dan air yang menjadi sumber tubuh menjadi tercemar dan kering, serupa hutan kehilangan keperawanannya menjadi ranggas dimakan hantu-hantu besi bernama buldoser dan gergaji dengan sang kendali pemakan segala; manusia.
Sudah satu bulan tubuh kecil itu tak berdaya dalam pagutan buyu. Sudah tiga hari tiga malam tiga balian seolah terbang menari-nari mengusir sang buyu yang betah menghuni tubuhnya. Sebuah pengobatan yang dipercaya turun-temurun dapat mengusir roh jahat dalam tubuh si sakit. Namun, sudah tiga hari tiga malam ritual pengobatan dijalankan, roh jahat di tubuh si anak tak jua pergi. Segala permohonan dan doa telah dihaturkan para balian kepada sang ilah. Segala syarat: gula, beras, ayam, bubur, kopi, menyan, telah dipersembahkan. Si sakit tetap terkulai. Dingin tubuhnya, terkatup matanya. Tinggal jari sapu lidinya menjentik-jentik lantai.
Tiga balian masih menari beriringan, berputar-putar dalam rampak gendang dan denting gelang yang tiada sepi.
Seorang ibu muda yang telah kehabisan air mata terduduk lemas di sudut belakang balai. Kantung matanya menebal, rambut terbiarkan tergerai kusut berhari-hari tak tersisir tangan dan dilembutkan minyak jelantah. Ialah ibu si anak yang kini nyawanya tengah di awang-awang dalam pertolongan para balian yang terus menari dan merapalkan mantra-mantra. Kepala perempuan itu terkulai miring ke kiri bersandar pada bahu seorang ibu yang menjaganya. Sang ayah, yang duduk di antara para pria di dekat lingkaran upacara, sesekali menengok kepadanya. Hanya karena ia seorang ayahlah yang membuat lelaki itu tetap tegar mendampingi anak semata wayang mereka didera penyakit tak berampunan. Walau jauh di lubuk hati, ia sebenarnya telah mulai memupuk kerelaan bila sewaktu-waktu sang anak diambil sang ilah.
Seperti menyibak kegelapan malam, meredam guruh gemuruh suara gelang dan mantra tiga balian, seorang perempuan muda tiba-tiba menghambur ke tengah upacara, menari-menari. Mulutnya merapal mantra-mantra yang tak pernah terbaca oleh balian mana pun juga, dengan diiringi denting gelang di kedua tangannya. Tiga balian lelaki terhenti. Orang-orang tersihir, terpaku menatap dalam keheningan. Hanya perempuan itu, ya, hanya perempuan itu yang menjadi pusat segala gerak, segala hidup. Ia terus berputar-putar, menari, merapalkan mantra dan mendentangkan gelang-gelang berat di kedua tangannya yang kurus panjang.
Aduhai,
Naik Kuda Sawang, sayang
Dibelai angin *)
Tak ada seorang pun yang tergerak menghentikan perempuan itu. Hingga akhirnya perempuan muda berambut panjang itu tersungkur ke lantai balai. Seluruh tubuhnya kuyup oleh peluh. Bersamaan itu pula, anak lelaki yang menjadi pusat pengobatan di tengah balai pelan-pelan bergerak seolah ingin bangkit. Orang-orang menyaksikan, kulit sang anak yang semula kering layaknya kulit kayu tua berubah seolah di bawahnya telah mengalir air kehidupan. Butir-butir peluh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Kuning kunyit kulitnya pun memudar. Perlahan matanya terbuka, bercahaya. Bibirnya, yang meski masih tampak kering, perlahan berucap, ”Ayah….” Panggilannya pelan namun jelas.
Seketika saja, orang-orang menghambur ke depan, mendekati tubuh kecil itu. Sang ayah dan ibu langsung memeluk dan menciuminya. ”Anakku… anakku… anakku..,” ucap keduanya sembari menangis dalam kegembiraan mendapati sang anak telah terlepas dari maut.
Seolah tersadar, orang-orang kemudian mengalihkan perhatian kepada sosok perempuan muda yang masih tersungkur tak sadarkan diri di lantai. Sekejap saja mulut-mulut bergeremeng seperti sekumpulan laron terperangkap dalam botol.
”Siapakah dia?”
”Dari mana asalnya?”
Tubuh itu tetap sepi, tertelungkup dengan rambut panjang tergerai masai. Satu dua orang kemudian tergerak menghampiri, lantas diikuti yang lain, lalu mengangkat tubuh perempuan itu ke salah satu bilik balai dan merebahkannya ke atas kasur tipis.
***
Orang sekampung tidak pernah melupakan malam itu. Seorang perempuan terbilang muda tiba-tiba menjadi balian, menjadi dukun. Tidak pernah sebelumnya, sejak nenek moyang, seorang perempuan menjadi balian. Paling tinggi ia hanya menjadi pinjulang, pembantu dukun laki-laki.
Tapi malam itu, Idang, seorang perempuan muda yang dianggap gila, menyeruak ke tengah-tengah upacara. Menari-nari, menyanyi, merapalkan mantra-mantra yang sebelumnya tidak pernah dibaca para balian.
”Ini menyalahi adat. Tidak pernah ada seorang perempuan, apalagi perempuan itu dianggap gila, bisa menjadi seorang balian. Ini alamat mendatangkan bencana,” ucap seorang lelaki tua di warung kepada dua lelaki yang lebih muda. Aku, yang meski berseberangan meja dengan mereka, masih dapat mendengarkan ucapan itu.
”Tapi ia telah berhasil menyembuhkan anak itu,” sahut salah satu lelaki muda sembari mengisap rokok.
”Betul, Pak. Saya ikut menyaksikan malam itu,” timpal yang seorang lagi setelah meneguk kopi hitamnya.
Dengan wajah agak memerah, orang tua itu berucap, ”Kalian anak muda ini, tahu apa kalian tentang balian. Kalian lihat saja nanti, hutan dan kampung kita ini nantinya akan ditimpa bencana. Dan itu karena perempuan gila yang hendak menjadi balian.” Setelah membayar kopinya, lelaki tua itu pun pergi meninggalkan warung sambil menggerutu, ”Celaka… celaka… celaka.”
Setelah lelaki tua itu agak jauh, seorang dari lelaki di warung berucap, ”Mungkin ia kecewa dan malu karena tak mampu menyembuhkan anak itu, meski diupacarai selama tiga malam.”
Aku melakukan hirupan terakhir kopiku sebelum bersiap pergi meninggalkan warung. Aku harus segera memulai perjalanan sebelum matahari meninggi. Tugasku selama dua minggu melakukan penelitian, termasuk menyaksikan upacara balian, sudah berakhir.
Selama perjalanan meninggalkan kampung di pinggiran hutan pegunungan Meratus itu, benakku terus dihantui cerita tentang Idang perempuan balian, dan lelaki tua di warung yang mengabarkan akan datang bencana di kampung dan hutan mereka.
Entah, makna apa yang harus aku pahami. Namun aku tahu, sebentar lagi hutan tak jauh dari kampung itu akan dibongkar oleh sebuah perusahaan besar untuk mengeruk emas hitam dari perutnya.

*) Kutipan ”Syair Induang Hiling” dalam buku ”Di Bawah Bayang-bayang Ratu Intan” karya Anna Lowenhaupt Tsing, yang sekaligus mengilhami cerpen ini.

*Ditulis oleh : Sandi Firly
Sumber tulisan : https://cerpenkompas.wordpress.com/2012/06/24/perempuan-balian/